Legenda Gagak Hitam
“Blarrr”, petir tiba-tiba menyambar
didepan rumah Ayga. Disusul dengan hujan yang sangat deras terlihat genangan
darah mengalir bersama dengan air hujan menuju selokan sebuah pemukiman yang
kini terlihat porak – poranda. Ayga yang baru pulang dari hutan hanya berdiri
terpaku dengan bulir – bulir tetesan air matanya yang dibarengi dengan tetesan
air hujan dipipinya.
Dengan
gemetaran dia melihat tumpukan mayat teman,saudara,dan tetangga di
pemukimannya. Sambil mengumpulkan kebaranian dia mulai mendekat ke tumpukan
mayat. Kaki Ayga yang sedari tadi menopang tubuhnya tiba – tiba langsung lemas
seperti tak bertulang. Tepat dihadapan mayat ibu dan ayahnya dia terduduk , air
mata yang tadi dia coba tahan sudah tak kuat lagi membendung kepedihan yang
dideritanya. Deras air hujan kala itu kalah dengan derasnya air mata Ayga, rasa
sedih dan marah ia coba tahan sekuat mungkin.Dengan lirih Ayga berkata pada
dirinya sendiri “ Aku berjanji akan menjadi seorang yang kuat….”.